SERANG – Tingginya kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terus mendorong pertumbuhan sektor properti, khususnya rumah subsidi di wilayah Banten. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan Akad Massal KPR Sejahtera BCA bersama Vista Land Group yang digelar serentak di tiga proyek perumahan pada Selasa, 28 April 2026.
Tiga lokasi yang menjadi bagian dari akad massal tersebut yakni Grand Harmoni Indah di Bogor, Puri Harmoni Cikasungka di Tangerang, dan Puri Harmoni Indah di Serang. Acara utama dipusatkan di kawasan Puri Harmoni Indah, Serang, dan dihadiri langsung oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait.
Turut hadir Presiden Direktur Bank Central Asia Hendra Lembong, Direktur Vista Land Group Esther Kristiany Hadi, General Manager Vista Land Group Oka Mahendra, General Manager Business Development Vista Land Group Arif Budiman Suselo, serta jajaran Pemerintah Kota Serang.
Dalam kunjungannya, Menteri Ara langsung meninjau kondisi fisik rumah subsidi yang akan diserahterimakan kepada konsumen. Ia juga berdialog dengan tiga calon penghuni yang berasal dari kalangan pekerja informal, yakni pedagang makanan ringan, tukang odong-odong keliling, dan pedagang pecel lele.
Menurut Ara, kolaborasi antara BCA dan Vista Land Group menjadi contoh sinergi yang baik dalam mendukung masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa memiliki rumah layak huni dengan proses pembiayaan yang cepat dan terjangkau.
“Saya mengapresiasi bahwa Pak Dirut BCA komit dengan apa yang disampaikan dan konsisten dengan apa yang disampaikan beberapa waktu lalu, serta Bu Esther dari Vista Land Group yang gencar membangun rumah subsidi dengan kualitas yang sangat baik,” ujar Ara di Puri Harmoni Indah, Serang, Selasa (28/4/2026).
KPR Sejahtera BCA tanpa subsidi pemerintah

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pihaknya mendukung penuh program pembangunan 3 juta rumah yang menjadi prioritas pemerintah. Melalui KPR Sejahtera BCA, perseroan memberikan pembiayaan rumah subsidi tanpa menggunakan jalur FLPP, namun tetap menawarkan fasilitas serupa.
Mulai dari uang muka ringan, tenor panjang, suku bunga tetap sebesar 5 persen, hingga cicilan yang setara dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), seluruh pembiayaan menggunakan dana internal BCA.
“Kami dari BCA support dengan uang sendiri, tidak mengambil subsidi dari pemerintah. Kami juga memberikan subsidi uang muka. Setelah melihat langsung, kualitas bangunan rumahnya sangat bagus dan kami berharap kerja sama ini bisa berkembang lebih besar lagi,” kata Hendra.
Sementara itu, Direktur Vista Land Group Esther Kristiany Hadi menjelaskan, kegiatan ini menjadi akad massal perdana bersama BCA, meskipun kerja sama pembiayaan sebenarnya telah dimulai sejak Desember 2025.
“Hari ini ada 51 konsumen yang melakukan akad dan disaksikan langsung oleh Menteri PKP. Ini menjadi langkah awal yang sangat baik. Tahun ini kami menargetkan akan membangun 5.000 unit rumah subsidi dan komersial,” ujarnya.
Esther mengatakan, Vista Land Group menyambut baik program KPR Sejahtera BCA karena dapat memberikan solusi tepat bagi konsumen yang ingin beli rumah dengan luas tanah lebih besar yang harganya di atas harga rumah subsidi FLPP.
”Dengan KPR Sejahtera BCA, konsumen dapat membeli rumah di atas harga rumah subsidi yang seharusnya masuk kategori rumah komersial, tapi tetap dapat menikmati fasilitas seperti rumah FLPP karena plafon kredit yang diberikan BCA sampai dengan Rp350 juta. Dalam istilah Pak Menteri PKP, kelompok ini masukan dalam kategori masyarakat berpenghasilan tanggung (MBT),” jelasnya.
Permintaan rumah subsidi masih tinggi

Di Kota Serang, Vista Land Group saat ini mengembangkan dua proyek besar, yakni Puri Harmoni Indah untuk rumah subsidi dan Bukit Mas Residence untuk rumah komersial.
Puri Harmoni Indah dibangun di atas lahan seluas 30 hektare. Pada tahap pertama, pengembangan dilakukan di atas lahan 15 hektare dengan target 1.328 unit rumah subsidi.
Manager Business Development Vista Land Group Arif Budiman Suselo menjelaskan, hingga saat ini sekitar 750 unit telah terbangun, sebanyak 650 unit sudah akad, dan tersedia sekitar 100 unit ready stock. Tingkat hunian bahkan telah mencapai 70 persen.
Sementara itu, Bukit Mas Residence yang dikembangkan di atas lahan 13 hektare kini hampir habis terjual. Harga rumah komersial di kawasan tersebut dibanderol mulai dari Rp350 juta hingga Rp800 jutaan.
Arif menyebut penjualan rumah subsidi di Serang pada kuartal pertama 2026 meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini terjadi meski ekonomi global tengah menghadapi tekanan akibat gejolak geopolitik internasional.
“Permintaan rumah subsidi tetap tinggi karena kebutuhan rumah masyarakat, khususnya MBR, memang sangat besar. Rumah masih menjadi kebutuhan utama,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam pengajuan KPR masih berkaitan dengan BI Checking atau riwayat kredit calon pembeli, terutama akibat pinjaman online dan kredit macet. Namun demikian, pihak BCA tetap memberikan ruang kemudahan bagi calon pembeli yang telah menyelesaikan kewajiban kreditnya.
“Selama ada surat lunas, proses pengajuan masih bisa dilanjutkan. Ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.
Menurut Arif, pasar rumah subsidi di Serang masih sangat besar dan tidak akan habis dalam waktu dekat. Mayoritas pembeli berasal dari kalangan ASN, karyawan swasta, pelaku UMKM, hingga pekerja sektor informal yang ingin memiliki rumah pertama dengan cicilan terjangkau.
“Ketika ekonomi masyarakat meningkat, biasanya yang pertama dibeli adalah rumah. Itu sebabnya pasar rumah subsidi selalu ada,” tutupnya. ***

